Followers

Saturday, March 5, 2011

Kanser Otak

Siapa pun orangtua melihat buah hatinya terlantar tak berdaya kerana sakit 16 tahun, tentu sedih. Itulah yang dialami Iryani (46). Anak sulung perempuan yang saban hari pekerjaannya mencuci pakaian ini dinyatakan doktor diserang kanser otak, sejak 16 tahun lalu.

Dia mengaku terkejut mendengar laporan doktor itu. Namun dia berusaha tabah. “Saya kuatkan hati ini,” kata Iryani. Umur Nurul Hikmah, demikian nama anak itu, kini sudah masuk 24 tahun. Sebagai ibu, Iryani jujur mengatakan tak tahan melihat penderitaan anak pertamanya itu, yang hanya boleh berbaring tak berdaya. Kadang dia hanya boleh menangis dan berdoa agar anaknya segera diberikan kesembuhan dan normal seperti sedia kala.

Namun di sisi lain, Iryani juga bersyukur. Sebab, selama sakitnya yang bertahun tahun itu, anaknya tidak pernah mengeluh. Bagi Iryani dan Yahdi (suaminya), atau bagi sesiapapun, penantian selama 16 tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun mereka tetap berusaha bersabar dan menerima segalanya kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Kalau bukan kerana Allah, mungkin saya sudah gila,” kata Iryani, sambil menitikkan air mata. Dia mengucapkan itu seraya tersenyum dan mengelus kaki anaknya.

Hingga kini Yahdi, Iryani, dan Yandi (anak kedua) tak bosan-bosannya menjaga dan mendampingi Nurul. Ada kalanya mereka menggantikan pakaian dalam Nurul ketika sedang datang bulan, membersihkan buang air yang kadang kala bercampur darah, menyuapi makan, dan memandikannya.

Syukurnya, Nurul bukan anak yang lekas putus asa. Di pembaringannya, ia tetap istiqamah menjalankan solat 5 waktu, puasa Isnin Khamis, dan menunaikan solat Tahajjud sambil berbaring. Zikir pun dia tak lekang, terutama saat rasa sakit menyerang kepalanya. Kadang-kadang kuatnya dia menekan tasbih, mungkin kerana menahan rasa sakit yang hebat, bulir-bulir tasbihnya yang setiap saat dipilinnya itu menjadi hancur.

Kerana belum ada ganti tasbihnya, dia berzikir memakai tangan. Ada bekas di jari-jarinya, barangkali juga kerana tekanan yang begitu kuat. “Saya ibadahnya hanya boleh begini, mudah-mudah Allah menerima ibadah dan doa saya,” tutur Nurul mengiba.

Sekalipun tak berdaya. Semangat hidupnya tak meredup. Bahkan dia pun masih punya hasrat untuk menikah suatu ketika. “Iya, hasrat ada. Apalagi kalau mendengar teman-teman saya yang dulu, sudah nikah dan punya anak,” kata Nurul lemah. “Saya mahu sembuh, biar pun tak 100 peratus. Yang penting oleh berjalan,” sambungnya, suaranya bersih.

Nurul dirawat di rumah ibunya di Jl Al-Busyro, RT 04 Rw 01, Desa Citayam, Kota Depok, Jawa Barat. Iryani tak membawa anakya ke hospital, kerana tak punya wang.

Maklum, Iryani dan Yahdi terolong keluarga miskin. Yahdi perkerjaannya tak menentu. Kadang-kadang jadi ojek, lain hari menjadi tukang bangunan, lain kali lagi jadi tukang batu.

Sedangkan Iryani, sebagai tukang cuci di Perumahan Asri Permai Komplek Pertanian Citayam Depok, setiap hari berangkat pagi, pulang kalau sudah tengah hari. Dia masih mampu mencuci pakai di antara 2 sampai 3 rumah. Jenis layanan pencucian yang ia terima macam macam, ada selimut dan segala jenis pakaian. Sebulan dalam 1 rumah ada yang member Rp 300 ribu.

Selain itu, ia kadang disuruh seterika baju orang. “Sekali menggosok pakaian ada yang memberi Rp20 atau Rp30 ribu,” kisah Iryani. Dari situlah andalan sumber kewangan mengalir, termasuk untuk sekolah anak bungsunya, Yandi Sulaiman (16 tahun) yang kini duduk di bangku SMK, dan untuk makan sehari hari.

No comments: